BEM FK UNSRI
official tumblr account Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia
official tumblr account Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia
Mahasiswa Kesehatan Harus Tahu!
Berpartisipasi dan berkolaborasi dalam sistem pendidikan tinggi ilmu kesehatan
BAGIAN 2
Oke, Jadi Saya Diminta Berpartisipasi. Memangnya Siapa Saya?
“coming together is beginning, staying together is process, and working together is success.”
Mungkin di antara teman-teman sekalian ada yang memiliki pengalaman serupa dengan Farrell, yang selama ini bersikap apatis alias tidak peduli terhadap sistem pendidikan tinggi ilmu kesehatan. Atau mungkin speerti Fitri dan Mischka yang sebetulnya sudah cukup kritis akan masalah yang terjadi selama kegiatan belajar-mengajar di kampusnya, namun merasa tidak berdaya dan akhirnya memutuskan untuk tidak melakukan apa pun. Pernah merasa seperti itu?
Mahasiswa saat ini cenderung pasif? Hmmm, betul tidak ya…?
Sejak kecil sudah ditanamkan pada anak-anak Indonesia bahwa tugas utama pelajar itu ya belajar. Apakah ada diantara teman-teman yang nasehat orang tuanya berbunyi, “Yang kritis di sekolah ya, Nak. Selalu berikan masukan yang membangun untuk guru, kepala sekolah, menteri pendidikan, kalau perlu presiden sekalian, tentang sisrem belajar kalian di sekolah!”?
Kalau ada orang tuanya yang berpesan demikian, tolong ajak mereka begabung di HPEQ Project ya! Jangan lupa sebelumnya daftarkan mereka ke New7Wonders karena orangtua jenis itu bisa jadi lebih langka daripada komodo.
Jadi inilah masalahnya. Bukan rahasia lagi bahwa berpikir dan bertindak kritis belum menjadi akar budaya bangsa kita. Hal itu tercermin dari proses belajar mengajar dari bangku sekolah sampai pendidikan tinggi. Coba sekarang tanya pada diri sendiri, siapa yang kalau kuliah memilih duduk si kursi belakang, kalau diberi kesempatan bertanya diam, kalau diberi pertanyaan juga diam? Nah, hal-hal kecil seperti itulah yang tidak menunjukkan keaktifan dalam kegiatan belajar mengajar. Tidak heran jika peristiwa yang dialami Farrell, Fitri, dan Mischka juga banyak dialami oleh mahasiswa lain di negara ini.
Pendidikan tinggi ilmu kesehatan yang berkualitas pangkal sistem pelayanan kesehatan berkualitas.
Produk berkualitas sebuah proses pendidikan dilahirkan dari sistem pendidikan yang tepat guna. Apa yang diajarkan di institusi pendidikan harus bisa diaplkasikan di lapangan sistem pendidikan terus berkembang dan mengalami perubahan seiring berjalannya waktu. Begitu juga dengan sistem pendidikan ilmu kesehatan. Teknologi, pola penyakit, kebutuhan masyarakat, dan pengambilan kebijakan adalah beberapa faktor yang memberikan pengaruh besar dalam perubahan itu. Hal inilah yang membuat suatu sistem pendidikan memiliki “tanggal kadaluarsa” alias tidak bisa dianggap sebagai sebuah patokan standar yang berlaku sepanjang masa. Dengan kata lain, suatu sistem yang dianggap baik 10 tahun lalu, bisa jadi mustahil diterapkan saat ini.
Pengambilan kebijakan terkait sistem pendidikan ilmu kesehatan bukanlah hal yang mudah, bahkan bagi negara-negara maju sekalipun. Apalagi di Indonesia, di mana hampir di setiap periode kemimpinan, selalu ada pergantian metode pembelajaran. Pemerintah dan institusi pendidikan tinggi ilmu kesehatan sesunggughnya telah berusaha keras menyusun sistem pendidikan yang terbaik untuk mencetak tenaga kesehatan yang berkualitas. Namun yang saat ini belum dioptimalkan adalah umpan balik dan partisipasi dari peserta didik yang sebenarnya termasuk komponen penentu keberhasilan suatu sistem pendidikan.
Hasil kajian tentang pola partisipasi mahasiswa dalam tata kelola sistem pendidikan di Indonesia yang dilakukan mahasiswa yang tergabung dalam HPEQ Project pada tahun 2011 mengungkapkan bahwa tidak semua institusi mengikutsertakan mahasiswa dalam proses perencanaan, pengembangan, dan akreditasi institusi. Hal ini cukup disayangkan karena seharusnya mahasiswa sebagai peserta didik lebih dilibatkan dalam kebijakan0kebijakan institusi.
Kurangnya keikutsertaan mahasiswa ini seharusnya disikapi dengan baik oleh kita semua, saatnya kita bersama-sama lebih berinisiatif dalam berpartisipasi dalam penataan pendidikan yang kita ikuti.
Sebenarnya, dimana sih posis mahasiswa
“Setiap warga negara bertanggung jawab terhadap keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan.” (UU RI Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 6)
“Masyarakat berhak berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi” (UURI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 8)
Dari 2 pasal diatas, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa, yang merupakan bagian dari masyarakat, wajib dan berhak ikut serta dalam penentuan kebijakan sistem pendidikan.
Nah, apa yang terjadi jika terhadap setiap kebijakan yang disusun kita hanya bisa diam dan tidak memberikan respon bahkan meskipun kita menemukan ketidakpuasan atau ketidakcocokan didalamnya? Di mana tanggung jawab kita terhadap pendidikan dan status mahasiswa yang kita sandang ini? Kita mahasiswa dikenal dengan pemikiran kritisnya; sudah saatnya kita bersama-sama mendukung keberlangsungan sistem pendidikan kesehatan dengan menyalurkan aspirasi yang membangun.
Dwiprahasto (2010) dalam Indonesian Health Professional Student Summit memaparkan bahwa mahasiswa harus berperan aktif, aktif sebagai subjek dalam menentukan kurikulum. Mahasiswa perlu berubah, dari reaktif menjadi responsif. Jika tidak merasa nyaman dengan kurikulum maka berikan solusi. Mahasiswa juga harus menjadi motor penggerak, karena perubahan bisa dilakukan jika ada kepedulian dan keingingan untuk mengubah kurikulum agar dapat diterima dan diterapkan semua pihak. Lebih dari itu, sejatinya mahasiswa dapat berperan sebagai public pressure yang mengerti isu dan ikut berperan dalam pengambilan keputusan. Partisipasi juga mengandung arti sebagai sebuah kolusi, penggabungan kekuatan berbagai pihak yang memiliki minat yang sama, dalam hal ini bahu membahu antar mahasiswa profesi kesehatan menuju sistem pendidikan yang terintegrasi. Kolusi yang tidak kalah penting tentu sinergi antara harapan mahasiswa dengan pemangku kepentingan terkait.
Hasil Deklarasi Mahasiswa: Saatnya Kita Berperan
Bersyukurlah kita bahwa masih banyak mahasiswa ilmu kesehatan Indonesia yang memiliki pemikiran yang lebih kritis dan kemauan bertindak yang lebih aktif dibanding Farrell, Fitri, dan Mischka.
Berangkat dari kesadaran akan pentingnya partisipasi mahasiswa, pada Indonesian Health Professional Student Summit tanggal 19 November 2010 silam, 8 organisasi magasiswa dari 7 profesi kesehatan yaitu Center for Indonesian Medical Students’ Activities (CIMSA), Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI), Ikatan lembaga Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia (ILMIKI), Persatuan Senat Mahasiswa Kedokteran Gigi Indonesia (PSMKGI), Ikatan Mahasiswa Kebidanan Indonesia (IKAMABI), Ikatan Senat Mahasiswa Farmasi Seluruh Indonesia (ISMAFARSI), Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia (ISMKMI), dan Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Gizi Indonesia (ILMAGI) merumuskan sebuah deklarasi tentang pentingnya peran mereka selaku calon pemimpin masa depan untuk ikut terlibat aksi dalam pembuatan kebijakan terkait sistem pendidikan di institusinya masing-masing serta bentuk kerja sama yang terjalin dengan baik antar profesi yang satu dengan lainnya.
Ditulis kembali oleh: Enggar Sari K. W., Anita Permatasari, dan Wenny Oktalisa
Dibuat oleh: Tim penulis HPEQ Project.