BEM FK UNSRI
official tumblr account Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia
official tumblr account Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia
Mahasiswa Kesehatan Harus Tahu!
Berpartisipasi dan berkolaborasi dalam sistem pendidikan tinggi ilmu kesehatan
BAGIAN 1
Sistem Pendidikan Tinggi Ilmu Kesehatan: Memangnya itu urusan saya?
“never believe that a few caring people can’t change the world. For, indeed, that’s all who ever have.”
Farrell, bukan nama sebenarnya, adalah seorang mahasiswa kedokteran yang cerdas dan memiliki catatan akademis yang memuaskan. IPKnya selalu diatas 3 dan selama ini dia merasa telah mengikuti kegiatan belajar-mengajar di kampusnya dengan baik. Tahun ini Farrell lulus sebagai dokter dan mulai sering diminta untuk mengisi lowongan jaga di puskesmas dan klinik-klinik swasta. Di minggu-minggu pertamanya, Farrell merasa canggung menghadapi pasien. Semasa kuliah, Farrell menjalani pendidikan klinis sebagai koas di berbagai rumah sakit pendidikan, di mana kebanyakan asus yang dipelajarinya adalah kasus tingkat rujukan atau spesialistik. Oleh karena itu, ada saat-saat di mana Farrell merasa bagwa dia yakin dia tahu diagnosis sekaligus tatalaksana penyakit ginjal kronis stadium 5 tapi dia tidak yakin bagaimana caranya mengobati pasien batuk-pilek-kurap-kembung. Padahal di puskesmas dan klinik swasta tempat dia bekerja, pasien batuk-pilek-kurap-kembung itulah yang ditemuinya setiap hari. Sejak mulai bekerja, Farrell juga semakin menyadari bahwa banyak kompetensi profesi yang seharusnya dia pelajari dengan lebib mendalam semasa koas. Akan tetapi kenyataannya, tak jarang dia menjalani tugas jaga malam di mana energi dan waktunya begitu terkuras, sementara pengetahuan dan keterampilan klinisnya tidak begitu bertambah.
Kisah lain datang dari Fitri, juga bukan nama sebenarnya. Seorang mahasiswa fakultas kedoktetan gigi yang seharusnya lulus sebentar lagi. Namun, saat ini dia khawatir tidak bisa ikut ujian karena tidak dapat menemukan pasien sebagai persyaratan ujian praktiknya. Fitri juga sebenarnya merasa cemas bahwa selama ini dia tidak cukup mendapatkan latihan praktik karena fasilitas dentalchair yang seringkali tidak memadai untuk seluruh mahasiwa di angkatannya.
Mischika, lagi-lagi bukan nama sebenarnya seorang mahasiswa ilmu farmasi memiliki masalah dengan Firyti terkait dengan masalah pendidikannya. Mischika dituntut untuk memiliki kemampuan melakukan penelitian dan wawasan berskala internasional. Namun apa daya, fasilitas laboratorium tidak memadai dan akses gratis terhadap jurnal-jurnal kesehatan saja masih sulit dipenuhi institusinya.

Dari ketigfa mahasiswa di atas, ditemukan benang merah dan sedikit perbedaan diantaranya. Setelah lulus, Farrell baru sadar bahwa selama ini banyak hal dari sistem pendidikan di kampusnya yang ternyata kurang efektif dan efisien. Selama kuliah, dia begitu sibuk belajar hingga tidak sempat menaruh perhatian akan masalah-masalah terkait proses belajar-mengajar di kampusnya. Sedikit berbeda dengan Farrell, Fitri dan Mischka sebenarnya sudah cukup kritis akan masalah ketersediaan fasilitas mereka hadapi. Namun mereka tidak tahu harus berbuat apa. Mereka tidak tahu dengan siapa harus berdiskusi dan bagaimana cara melakukannya. Selain itu, ada sedikit perasaan pesimistis apakah aspirasi mereka akan mendapat tanggapan yang bermanfaat.
Ilustrasi di atas memang bukan hanya sekelumit dari banyak masalah yang dihadapi oleh mahasiswa ilmu kesehatan di Indonesia. Dari ketiga kasus tersebut, dapat dilihat bahwa masalah itu antara lain:
1. Ketidak sesuaian materi yang diajarkan dengan kompetensi yang dibutuhkan di lapangan
2. Tidak efektifnya metode pengajaran yang acapkali hanya membawa kelelahan dan menghabiskan waktu tanpa menambah ilmu
3. Kurangnya fasilitas di institusi pendidikan ilmu kesehatan
Masalah yang dialami Farrell, Fitri, dan Mischka adalah masalah teknis yang berbeda-beda antara satu profesi dengan yang lainnya. Pelajaran yang dapat ditarik dari ketiga kasus di atas adalah bahwa partisipasi mahasiswa sangat diperlukan untuk membuat sistem pendidikan yang tepat guna. Mahasiswa perlu memberikan umpan balik, baik dalam bentuk mesukan, kritik, dan saran terhadap proses belajar mengajar yang mereka jalani. Untuk dapat memberikan manfaat, penyampaian aspirasi itu harus dilakukan dengan benar. Dengan kata lain, metode yang digunakan haruslah efektif, efisien, dan intelek. Proses itu membutuhkan komunikasi yang baik antara mahasiswa dengan dosen, institusi, dan pemerintah.
“Partisipasi mahasiswa harus dilakukan dengan cara yang efektif, efisien, dan intelek”
by: Enggar Sari Kusuma Wardhani(PDU ’09 Reg), Anita Permatasari (PDU ’09 Reg), Wenny Oktalisa (PDU ’09 Reg)